Beberapa hari lalu saya terlibat percakapan panjang bersama hair stylist langganan saya di bilangan Pondok Indah. Dari membicarakan politik, potongan rambut, makanan, sampai soal ekonomi Indonesia yang rasanya tidak kunjung membaik yang ujung - ujungnya PHK terutama untuk level tertentu di banyak perusahaan.
Seriusnya berbicara soal ekonomi, tiba - tiba sang hairstylist berujar "kalau lagi susah ya mbak, teman pada menghilang. Coba kalau kita lagi sukses, banyak temennya. Padahal dulu saya pas temen saya susah, saya bantu cari kerjaan sampai kasih tumpangan. Pas saya susah, satupun ngga ada yang bantu. Malah temen yang ngutang sama saya ikutan kabur juga pas saya mau minta kembali uang saya."
Nah! Pas beliau berujar seperti itu, saya mikir juga. Jangan - jangan kita cenderung seperti itu. Kita berusaha dekat dengan teman - teman kita yang sukses supaya kecipratan suksesnya juga. Lebih bagus lagi, siapa tahu dapat bisnis baru atau peluang pekerjaan baru. Nah pas teman susah, kita mungkin akan mikir, "wah bakal ngerepotin nih.
Jadilah saya bertanya pada diri saya sendiri: Apakah saya cenderung menghindar ketika seseorang membutuhkan bantuan, membantunya dengan tujuan tertentu atau ya membantu saja tanpa ada muatan maksud apapun?
Nyatanya manusia, apalagi saat ini, semua dihitung - hitung. Mau memberi, hitung - hitungan berapa banyak pahala yang bakal diperoleh, hitung - hitungan benefit yang bakal saya dapat kalau saya bantu orang tersebut dan seterusnya. Dan nyata - nyatanya, pernyataan hairstylist langganan saya itu ada benarnya. Sayapun pernah mengalaminya. Lebih banyak teman yang menghilang ketika dimintakan bantuan dibanding teman yang mendukung tanpa pamrih (and I am very blessed to have some close friends who support me in many ways). Dan sayapun berkomentar, "karena itu ya mas, kalau punya teman yang support pas kita susah, mereka itu teman sejati. Mesti jaga hubungan baik sama mereka dan kalau ada teman yang susah ya bantu semampu kita. Ngga enak kan gimana rasanya ditinggalin temen pas susah?" Ia mengiyakan.
Blessed are those who can give without remembering
and Take without Forgeting
Sepulang dari sana, saya mengevaluasi diri saya lagi. Sudahkah saya tulus membantu orang lain tanpa mengharapkan apapun? Sudahkah saya memberikan dukungan terbaik kepada teman - teman saya yang membutuhkan? Adakah saya hitung - hitungan ketika memberi bantuan? Semoga saya menjadi pribadi yang tulus.
Titik.

No comments:
Post a Comment